Oleh Peter Lewuk
SEJAUH pengetahuan saya, salah seorang tokoh pemimpin dunia, yang dengan doa dan harapan menyambut Piala Dunia 2026 yang digelar FIFA adalah Paus Leo XIV. Ujud doa Sri Paus adalah: “Semoga olah raga dapat menjadi sarana perdamaian, perjumpaan dan dialog antarbudaya dan bangsa, serta mempromosikan nilai penghargaan solidaritas dan pertumbuhan pribadi”. Ujud doa Sri Paus adalah ujud doa gereja universal yang didoakan oleh umat katolik di seluruh dunia selama bulan Juni 2026.
Doa dan harapan Paus Leo XIV tersebut menginspirasi saya untuk melakukan refleksi filosofis singkat bertajuk: “Filsafat Lapangan Hijau: Sepak Bola Sebagai Diplomasi Perdamaian”. Judul refleksi ini bukan untuk sekedar gagah-gagahan atau agar terdengar keren. Melainkan mau diungkapkan nilai-nilai yang terkandung dalam perhelatan global Piala Dunia 2026, di tengah perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel versus Iran, dan antara Israel versus proksi-proksi Iran.
Momentum Historis Signifikan
FIFA menggelar Piala Dunia 2026 di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Piala Dunia 2026 bukan sekedar turnamen sepak bola, melainkan sebuah “laboratorium” raksasa bagi filsafat kemanusiaan universal, yang kurang lebih dapat saya elaborasikan secara garis besar berikut ini.
Sebagaimana diketahui dan disaksikan, dunia ini tidak sedang baik-baik saja. Dunia tempat kita hidup dan berkarya sedang retak oleh polarisasi politik, perang, dan pameran senjata pembunuh sumpercanggih untuk saling membunuh di medang perang, serta persaingan dagang yang tidak sehat. Sebuah polarisasi dan persaingan jahat yang menghina keluhuran martabat manusia.
Meskipun demikian, sebaliknya, dengan terselenggaranya Piala Dunia 2026, maka peristiwa bersejarah ini hendaknya dijadikan momentum strategis-signifikan untuk membuktikan bahwa manusia masih mampu bersaing tanpa saling membunuh. Piala Dunia 2026 adalah antitesis terhadap perang antara Amerika-Israel versus Iran.
Politik Perdamaian
Perhelatan Piala Dunia 2026 hendaknya dipandang dan dimaknai sebagai sarana “politik perdamaian”, yang menggantikan medan perang dengan lapangan hijau. Filsuf Yunani, Heraclitus (534-475 SM), mengatakan bahwa “perang adalah bapak dari segala sesuatu” (Polemos panton men pater estin).
Polemos atau Perang dalam bahasa filosofis Heraclitus tidak selalu berarti invasi militer yang menghasilkan pertumpahan darah atau pembunuhan. Melainkan sebagai “ketegangan oposisional” alias konflik, kompetisi atau persaingan yang menjadi motor penggerak perubahan. Atau dengan bahasa filsuf Hegel: segala sesuatu lahir dari ketegangan dialektik dari realitas sejarah manusia.
Adapun implikasi “filsafat Polemos” Heraclitus untuk Sepak Bola adalah bahwa sepak bola mengambil esensi polemos dan memurnikannya dari unsur destruktif-kontraproduktif, kemudian membuatnya menjadi persaingan konstruktif-produktif. Dengan rumusan yang enak didengar dan bermakna luhur seperti di bawah ini:
Sepak Bola adalah Polemos atau Perang yang Beradab. Manusia dapat memetik manfaat dari Polemos Sepak Bola yaitu: pertumbuhan pribadi dan solidaritas tim tanpa harus terperosok ke dalam
barbarisme perang. Tidak seperti di medan perang dan invasi militer, di medan laga lapangan hijau tetap berlaku “bapak yang melahirkan segala sesuatu” (seperti kompetisi yang melahirkan skil, takik dan strategi, kemenangan, kejayaan dan sebagainya). Namun “anak haram dari sang bapak” (yaitu kebencian, kecurangan, dan trauma) harus disingkirkan.
Dengan merujuk Heraclitus, maka saya dapat mengatakan bahwa Sepak Bola adalah “Kompetisi yang Memanusiakan Manusia”, tidak seperti perang yang membunuh manusia. Untuk itu mari kita rujuk psikologi filosofis Sigmund Freud: Bahwa energi agresif manusia, jika tidak disalurkan akan meledak menjadi kekerasan.
Nah secara negatif, dapat dikatakan bahwa perang adalah saluran ledakan energi agresif-destruktif. Namun sebaliknya – berbeda dengan saluran perang – maka sepak bola adalah kanal sublimasi tertinggi. Secara positif dapat dikatakan bahwa energi agresif-konstruktif manusia dapat dikanalisasi dan disublimasikan menjadi prestasi yang membanggakan.
Daripada mengirim ribuan tentara dengan persenjataan supercanggih ke medan perang hanya untuk membunuh musuh, lebih terhormat dan bermartabat kalau negara-negara mengirim 11 (sebelas) pemain mereka ke lapangan hijau untuk merebut trofi atau piala. Bila berhasil menjadi juara dan trofi di tangan, maka negara bersangkutan dengan para bintang sepak bola serta kontingennya mendapat pujian dari berbagai pihak.
Kanal Sublimasi Tertinggi
Di atas diperkenalkan termoinologi “kanal sublimasi tertinggi” dalam dunia sepak bola. Apa maknanya? Sublimasi tertinggi adalah proses psikologis yang mengalihkan energi agresif-destruktif, yang secara alami ada dalam diri manusia, menjadi aktivitas yang produktif, kreatif, dan diterima secara sosial.
Dalam aktivitas sepak bola, energi kekerasan disublimasikan atau ditransformasikan menjadi “Skil”. Dorongan untuk “menjatuhkan” lawan tidak diubah menjadi pukulan fisik, melainkan menjadi tekel bersih, kecepatan lari, atau strategi dan taktik untuk merebut bola. Energi marah diubah menjadi fokus dan ketajaman gerak.
Sepak bola dapat menjadi Kanal Emosi yang Aman. Stadion menjadi “wadah” bagi suporter untuk meluapkan emosi (eforia teriakan yel-yel dan nyanyian) tanpa harus merusak tatanan sosial atau menyakiti orang lain secara fisik. (Kecuali secara kasuistik kadang terjadi pada para suporter di Indonesia).
Sepak pola juga menampilkan Penghargaan atas Aturan. Energi yang tadinya liar, kini dibatasi oleh aturan main atau rule of the game tentang fair play. Manusia belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah siapa yang paling brutal, melainkan siapa yang paling cerdas dan disiplin dalam batas-batas etika.
Jadi sepak bola “memperadabkan” insting purba manusia. Sepak bola mengeluarkan “binatang” dalam diri manusia dan melatihnya mejadi “atlet” yang bermartabat. Sebaliknya dalam medan perang, insting purba hewani dalam diri manusia, diternak menjadi harimau buas pemangsa manusia musuh. Filsuf Thomas Hobbes mengatakan: homo homini lupus artinya manusia adalah serigala bagi manusia.
Memanusiakan Manusia
Istilah ini sangat populer di Indonesia, terutama dalam dunia pendidikan dan etika. Secara filosofis, istilah “memanusiakan manusia” memiliki kedalaman makna yang perlu dipahami agar orang tidak sekedar latah menggunakan istilah terebut dalam percakapan atau dalam pidato pengarahan pejabat.
Perlu dipahami bahwa ada perbedaan antara “Menjadi Manusia” dan “Memanusiakan Manusia”. Menjadi manusia adalah proses biologis, disebut “Hominisasi, yang berlangsung otomatis saat manusia lahir dan hidup. Manusia betubuh, ber-DNA, berakal budi, dan berkehendak bebas.
Setelah Menjadi Manusia, selanjutnya ada proses “Memanusiakan” manusia, disebut “Humanisasi”, yaitu proses kultural dan moral untuk menjadi manusia seutuhnya yang berharkat dan bermartabat. Proses ini tidak otomatis, melainkan harus diupayakan melalui pendidikan kultural dan penumbuhan kesadaran etis. Setiap orang dilahirkan sebagai manusia alias “homo” (bahasa Latin) namun tidak setiap orang berhasil menjadi manusia atau “humanus” yang bermartabat. Secara an sich, manusia memang bermartabat, tetapi dalam praksis hidup sosial martabat manusia sering dihinakan oleh sesama.
Jadi, secara filosofis, Humanisasi sebagai proses memanusiakan manusia berarti memperlakukan seseorang sesuai dengan kodrat tertingginya sebagai makhluk (a) Berakal Budi: bukan sekedar mengikuti insting hewani (makan, kawin, tidur), tetapi mampu berpikir kritis dan bijaksana. (b) Memiliki Martabat: menghargai hak asasi, kebebasan, dan harga diri orang lain. Tidak merendahkan, mengeksploitasi atau memperbudak orang lain. (c) Bertanggung Jawab Sosial: sadar bahwa kebahagiaan seseorang terkait dengan kebahagiaan orang lain (solidaritas).
Jadi, dalam sepak bola yang fair play, humanisasi atau memanusikan manusia terjadi ketika (a) Lawan Bukan Objek, Tetapi Subjek: Pemain tidak melihat rivalnya sebagai “musuh” yang harus dibinasakan, melainkan mitra kompetisi yang sama-sama memiliki martabat dan berpeluang menang.
Begitu pula (b) Mengontrol Insting Hewani: saat diprovokasi, pemain tidak membalas dengan kekerasan (insting binatang), tetapi merespons dengan skil dan sportivitas (akal budi dan nurani manusia). (c) Menghargai Aturan: taat pada wasit dan aturan main adalah bentuk penghormatan terhadap tatanan sosial yang adil, bukan hukum rimba (survival of the fittest) di lapangan hijau.
Simbolisasi Genjatan Senjata
Selain sebagi sublimasi psikologis-filosfis, dalam konteks “politik perdamaian” sepak bola juga dapat menjadi Momentum Simbolisasi Genjatan Senjata. Saat Piala Dunia berlangsung, tensi geopolitik diharapkan mereda sejenak. Meski Amerika Serikat tidak mengizinkan kontingen Iran menginap di negeri Paman Sam itu selama berlangsungnya piala dunia.
Dalam ”lapangan politik”, para pemimpin negara musuh bebuyutan mungkin saja bisa saling berjabatan tangan penuh kepura-puraan di meja perundingan. Sebaliknya dalam “lapangan hijau” sepak bola, para “musuh bebuyutan”, juga saling berjabatan tangan sambil berikrar menaati aturan main yang ditetapkan oleh organisasi sepak bola, FIFA misalnya.
Kalah-menang dalam “lapangan atau medan perang politik” ditentukan oleh jumlah persponel tentara dan rudal yang digunakan untuk membunuh musuh. Sebaliknya kalah-menang dalam “lapangan hijau” sepak bola ditentukan oleh profesionalisme kinerja pemain dan tim.
Dialog Antarbudaya
Salah satu sarana dalam dialog antarbudaya adalah “bahasa”. Filsuf bahasa Ludwig Wittgenstein, yang terkenal dengan philosophical language game-nya megatakan: “Batas bahasaku adalah batas dunianya.” Dengan kata lain, setiap bangsa mempunyai bahasa sendiri sebagai tanda identitas dirinya.
Namun dalam dunia yang semakin menjadi dusun global dan borderless alias tanpa batas, kita dapat merujuk pada bahasa komunikasi dan dialog yang dikonstruksi oleh Ludwik Lejzer Zamenhof, seorang dokter berkebangsaan Polandia-Yahudi, pada akhir abad ke-19. Bahasa komunikasi dan dialog itu
disebut dengan istilah “Esperanto”, yang berarti “harapan” atau dapat disebut juga “bahasa ideal-universal”.
Bahasa Esperanto mau membantu manusia-manusia lintas budaya dan lintas bangsa untuk saling memahami tanpa terikat pada budaya atau bangsa tertentu. Esperanto adalah bahasa universal yang bertujuan: Memfasilitasi komunikasi antara beragam budaya dan antara berbagai bangsa, serta mendorong terciptanya solidaritas dan perdamaian dunia.
Esperanto Kaki
Piala Dunia adalah ajang implementasi “Esperanto Bola Kaki”, yang juga dapat disebut dengan istilah “Esperanto Kaki”. Sepak bola adalah bahasa tanpa kata, tepatnya “bahasa kaki”, namun dapat dimengerti oleh pemain. Para pesepak bola di lapangan hijau tidak perlu mengerti bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Mandarin, Arab, atau Indonesia untuk memahami makna bola umpan terobosan, tekel keras, bola mati, atau gol spektakuler.
Gerakan kaki menggiring, mengontrol, dan menendang bola adalah “kosakata” Esperanto universal yang sama di seluruh dunia. Aturan main dalam sepak bola, misalnya, offside, handsball, tendangan bebas, tendangan sudut, lemparan ke dalam, tendangan penalti, dan sebagainya, semuanya itu pun seragam secara global, sehingga mudah dipahami dan diapliksikan oleh pemain di lapangan hijau.
Dengan demikan “Bahasa Esperanto Sepak Bola” adalah “penghubung peradaban” yang menyatukan miliaran orang dari berbagai latar belakang bangsa, budaya, agama, dan politik yang berbeda melalui satu medium, yaitu “permainan bahasa kaki” (philosophical language game of football).
Solidaritas Kemanusiaan Universal
Melalui perhelatan “Piala Dunia”, diharapkan negara-negara berkomitmen membangun dan memelihara solidaritas kemanusiaan universal dengan semboyan: “Menang Bersama, Kalah Bersama”. Namun, berbeda dengan, misalnya dalam persainga politik dagang, sebuah negara penganut ideologi kapitalisme ekstrem, akan memaknai kemenangan dalam persaingan itu sebagai “the winner takes all” alias pemenang mengambil semuanya. Ini berarti negara kapitalis itu akan menghegemoni perdagangan dunia. Tidak peduli apakah negara lain rugi atau tidak.
Lain halnya dengan sepak bola, yang mengajarkan “nilai lebih” yaitu “Solidaritas dalam Kerapuhan”. Apakah itu? Di lapangan hijau, kita menyaksikan “empati kemanusiaan”. Saat seorang pemain mengalami kerapuhan cedera berat, misalnya, rival pun berhenti dan menunjukkan rasa simpati dan kekhawatiran serta solider. Haram hukumnya bagi sang rival mengatakan: “Rasain lu”.
Dalam sepak bola kita belajar tentang apa yang disebut: “Penghargaan Atas Usaha”. Kita belajar menghargai sebuah tim yang kalah telak, tetapi terus berusaha berjuang hingga menit dan bunyi pluit terakhir. Ini adalah sebuah metafora kehidupan: Harga diri tidak ditentukan oleh hasil akhir, melainkan penghargaan atas usaha. Itulah integritas perjuangan di lapangan hijau.
Solidaritas kemanusiaan akan muncul ketika kita mau Mengakui Kesamaan Hak. Bahwa setiap manusia – terlepas ia berasal dari negaranya yang adidaya ataupun sebaliknya negaranya sedang berkembang – sama-sama memiliki hak untuk mempunyai cita-cita, berjuang, dan berusaha menggapai kemenangan, serta berhak untuk diperlakukan secara bermartabat dan berperikemanusiaan yang adil dan beradab.
Solidaritas Kemanusiaan Universal akan tampak ketika negara-negara dan kontingen pemainnya masing-masing, yang mengambil bagian dalam ajang Piala Dunia-FIFA, pada akhirnya dengan ksatria,
kegembiraan, dan sportivitas mengatakan atau mengakui: “Kita Semua Menang Bersama, Kalah Bersama”.
Pertumbuhan Pribadi
Melalui ujud doanya, Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya dimensi “Pertumbuhan Pribadi” dalam sepak bola. Penegasan paus ini dapat dipahami dan dimaknai bahwa sepak bola adalah guru terbaik yang mengajarkan pertumbuhan karakter pribadi pemain, terutama dalam tiga dimensi ideal berikut ini.
Pertama, Seni Menerima Kekalahan. Dalam hidup ini, manusia akan lebih sering kalah daripada menang. Nah, sepak bola mengajarkan “cara kalah dengan elegan” (graceful losing). Tidak menyalahkan wasit, tidak merusak fasiltas, bangkit dan berlatih lebih keras meningkatkan kinerja di lapangan hijau untuk pertandingan berikutnya. Seni menerima kekalahan sambil meningkatkan profesionalisme kinerja pribadi maupun tim adalah “kerendahan hati” yang sangat dibutuhkan dalam era modern yang rapu.
Kedua, Seni Mengelola Ego demi Kolektivitas atau kerja sama. Sepak bolah adalah antitesis dari individualisme ekstrem. Di lapangan hijau, bintang terbesar sekelas Christiano Ronaldo pun tidak bisa bermain dan menang sendiri. Bahasa filosofisnya: “Aku harus tunduk kepada Kita”. Tanpa filosofi ini, tim akan kalah. Sepak bola mengajarkan pemain untuk menekan ego pribadi. Keberhasilan bersama jauh lebih penting daripada pujian individu. Sepak bola mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada sinergi tim, bukan dominasi individu pemain.
Ketiga, Seni Disiplin dalam Ketidakpastian (Konsistensi). Sepak bola mengajarkan bahwa bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan disiplin berlatih ribuan jam yang membosankan. Dengan demikian akan terbentuk karakter ketekunan. Pahamilah bahwa kesuksesan bukanlah keajaiban semalam, melainkan akumulasi dari disiplin kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Tiga dimensi ideal terebut di atas berlaku umum, bukan hanya bagi pemain sepak bola. Ketiganya membentuk pribadi manusia yang utuh: Tangguh secara mental, rendah hati secara sosial, dan kuat secara karakter.
Puisi Rumput Hijau
Mengakhiri reflesksi filosofis singkat tentang “Filsafat Lapangan Hijau: Sepak Bola Sebagai Diplomasi Perdamaian, saya ingin merangkai alinea-alinea “puisi rumput hijau” di bawah ini:
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 bukan sekedar tentang siapa yang mengangkat trofi emas ke langit. Melainkan tentang siapa yang akan tetap berdiri tegak sebagai manusia di tengah reruntuhan saling prasangka.
Sepak bola mengajarkan kita sebuah kebenaran sederhana namun radikal: bahwa rival di lapangan bisa menjadi sahabat di luar garis putih. Bahwa air mata kalah-menang sama asin rasanya. Apakah itu ditangisi oleh pemain dari negara adidaya atau dari negeri kecil terlupakan. Bahwa teriakan gol adalah Esperanto universal yang melampaui tembok ideologi dan perbatasan paspor.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh dentuman senjata dan retorika kebencian, lapangan hijau tetap menjadi satu-satunya altar di mana kita masih bersedia berlutut, bukan untuk menyembah kekuasaan, tetapi untuk mengikat tali sepatu sebelum berjuang secara profesional, adil, dan produktif.
Maka, marilah menjadikan setiap operan bola sebagai jembatan dialog, setiap tekel sebagi batas etika, dan setiap pluit akhir sebagai pengingat bahwa perang hanyalah pilihan mereka yang dungu dan kehabisan imajinasi untuk bermain bersama. Bahwa dengan rasa solidaritas yang jenuin, mari kita katakan: Menang Bersama Kalah Bersama.
Selama bola masih bergulir di rumput hijau, harapan masih hidup. Selama kita masih bisa berjabat tangan setelah 90 menit pertempuran, perdamaian bukanlah utopia. Bola perdamaian dunia adalah kemungkinan nyata yang menunggu untuk kita tendang ke gawang sejarah.***
*) Penulis adalah cendekiawan masyarakat adat matriarkat Tana Ai, Flores, NTT.





