Merajut Jalan Salesian Don Bosco di Tanah Betawi: Dua Putra Flobamora Siap Terima Sakramen Imamat di Kampung Sawah

D.K.I JAKARTA197 Dilihat

BEKASI,KABARDAERAH.COM-Sebuah sejarah iman yang magis, mengharukan, sekaligus menggetarkan dada bersiap ditorehkan di atas tanah keramat Kampung Sawah. Di bawah rimbunnya pohon toleransi bumi Betawi, lonceng suci Gereja Paroki Santo Servatius yang tahun ini genap berusia 130 tahun bersiap mendentangkan madah syukur paling agung: seorang putra diaspora Flobamora yang lahir, meminum air tanah Betawi, dan bertumbuh di sela-sela komunitas kultural Betawi, kini melangkah menuju altar kudus untuk menyerahkan seluruh sisa hidupnya sebagai pelayan Tuhan.

Peristiwa sakral pentahbisan Diakon Alfonsus De Navarete, SDB (Diakon Varet) dan Diakon Fransisco Kherubim Nuwa, SDB oleh Yang Mulia Ignatius Kardinal Suharyo pada Sabtu (22/8/2026) nanti, bukan sekadar upacara liturgi biasa.

Diiringi air mata haru sang ibu yang tak pernah menyangka anak lelakinya yang dahulu nakal kini dipilih menjadi pelayan altar, momen ini adalah sebuah nubuat indah yang menjadi nyata.

Bagi umat Katolik Betawi, kehadiran imam baru yang lahir dari rahim komunitas mereka sendiri adalah sebuah kebanggaan tertinggi sekaligus bukti teologis yang tak terbantahkan—bahwa Kampung Sawah bukan hanya laboratorium kerukunan lintas iman, melainkan tanah suci yang diberkati Tuhan untuk menumbuhkan, merawat, dan melahirkan gembala jiwa yang membawa api kasih Santo Yohanes Don Bosco bagi dunia.

Puncak Perjalanan Sunyi dan Panggilan Jiwa

Tahbisan ini menjadi puncak perjalanan panggilan yang telah dijalani kedua diakon selama bertahun-tahun dalam Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB). Melalui Sakramen Tahbisan, keduanya akan diutus melayani Gereja sebagai imam dengan spiritualitas Santo Yohanes Don Bosco yang menekankan pelayanan kepada kaum muda, pendidikan serta pewartaan Injil.

Diakon Alfonsus De Navarete bersama Diakon Fransisco merupakan bagian dari generasi muda asal Flobamora (Flores, Sumba, Sabu-Raijua, Timor, Rote-Ndao, Alor, Lembata, dan Adonara serta pulau-pulau lainnya) yang memilih mengabdikan hidupnya melalui Kongregasi SDB.

Perayaan tahbisan ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Gereja Kampung Sawah, Paroki Santo Servatius. Karena salah satu calon imam, Diakon Varet adalah putra Flobamora yang lahir dan dibesarkan di tengah komunitas Betawi Kampung Sawah. Komunitas ini dikenal sebagai simbol toleransi, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama, tempat tumbuh benih panggilan hidup membiara hingga akhirnya mengantarkan Diakon Varet menuju tahbisan imamat.

Kehadiran putra Kampung Sawah yang akan ditahbiskan menjadi imam merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga, umat paroki, dan masyarakat setempat. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa keluarga dan komunitas Flobamora memiliki peran penting dalam menumbuhkan panggilan hidup untuk mengabdi kepada Tuhan dan sesama.

Sumbangsih Iman Terbesar Diaspora NTT

Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Flobamora Kampung Sawah, Pascal S Bin Saju, merasa gembira dengan ditahbiskannya dua putra diaspora Flobamora di Kampung Sawah.

“Saya sebagai salah satu warga diaspora NTT, Flobamora yang ada di Kampung Sawah dan juga sekaligus sebagai Ketua Ikatan Keluarga Besar Flobamora di Kampung Sawah merasa sangat bangga dan senang karena kedua putra Flobamora asal Flores yang lahir di tengah komunitas Betawi ternyata memiliki panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan,” kata Pascal.

Menurut Pascal, wartawan senior Kompas, tahbisan ini menjadi bukti nyata sumbangsih terbesar dari Komunitas Flobamora untuk Gereja Kampung Sawah, Paroki Santo Servatius.

“Diakon Varet ini putra pertama dari NTT tepatnya dari Pulau Flores yang ada di Kampung Sawah, yang lahir di tengah komunitas Betawi. Ini sebuah kegembiraan, karena panggilan itu ternyata tidak hanya tumbuh di komunitas asalnya, tetapi juga ternyata bersemi di tengah komunitas Betawi. Ini sebuah kegembiraan yang luar biasa yang sangat dibanggakan kita semua,” kata Pascal.

Pascal juga berharap dengan munculnya imam baru dari Komunitas Flobamora yang lahir di tengah komunitas Betawi dapat menjadi model dan contoh sehingga dapat melahirkan benih panggilan baru bagi generasi muda Flobamora atau komunitas lain di tengah Jakarta untuk mendorong anak-anaknya mengikuti jejak Diakon Varet menjadi pelayan Tuhan.

Bagi umat Gereja Paroki Servatius Kampung Sawah, peristiwa ini juga menjadi sejarah yang membanggakan karena gereja yang pada tahun ini merayakan 130 tahun perjalanan imannya kembali menjadi tempat lahirnya seorang imam yang berasal dari komunitasnya sendiri. Hal ini semakin menegaskan Kampung Sawah sebagai komunitas yang tidak hanya dikenal karena warisan budaya Betawi dan semangat toleransinya, tetapi juga menjadi tempat berseminya benih panggilan menjadi imam.

Haru Biru Orang Tua: Dari Kenakalan Menuju Kebenaran Altar

Ayah dan ibu kandung Diakon Varet, Albertus Peding dan Christina Mery Sudarsih merasa bersyukur bahwa anak mereka yang dulu terkenal nakal itu bisa mengikuti pendidikan di seminari sampai akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Christina tidak punya pretensi tertentu dengan Varet saat memilih masuk seminari.

“Saya hanya mau mengikuti alurnya Varet saja. Untuk mendorong dia menjadi imam juga tidak, tapi ikuti saja seperti apa ke depannya, hasilnya seperti apa gitu. Tapi, ternyata sampai detik ini dan akan ditahbiskan menjadi imam, perasaan saya senang, haru dan tidak bisa membayangkan perasaan yang saya alami saat ini,” kata Christina menahan air mata.

“Mudah-mudahan ke depannya dia bisa menjadi imam yang baik, yang taat akan Tuhan dan sayang umat-umatnya,” ujar Christina, dalam doa dan berharap anaknya menjadi pelayan Tuhan yabg baik.

Sementara Albertus Pending msngaku tidak kaget dengan pilihan anaknya karena memang sejak kecil sudah berharap anaknya ini masuk seminari.

Hal itu didukung lagi oleh kakeknya, seorang mantan seminaris yang selalu menceritakan kehidupan di seminari. Dorongan untuk masuk seminari bukan pertama-tama untuk menjadi imam tetapi lebih kepada pembentukan karakter.

“Soal nanti jadi imam atau tidak itu adalah kuasa Tuhan sendiri. Itu pikiran saya waktu itu. Namun lebih kepada pembentukan karakter. Itu tujuan utama dia masuk seminari. Tapi kemudian memilih menjadi Imam melalui tarekat SDB, puji Tuhan,” kisah priaa asal Maumere ini.

Albert pun berharap ke depan Diakon Varet bisa menjadi imam yang baik dan benar. Tapi penekanannya lebih kepada kebenaran, karena menurutnya, baik belum tentu benar tetapi benar pasti baik.

“Semoga Diakon Varet dan Diakon Kherubim senantiasa menjadi imam yang rendah hati, setia pada panggilan serta mampu menghadirkan semangat kasih, sukacita, dan pelayanan Don Bosco di tengah Gereja dan masyarakat.” ** [Domi Dese Lewuk].