TMMD Bangkitkan Luka Merajut Harapan di Desa Kalabeso

Kabut tipis masih menyelimuti lembah ketika saya tiba di Desa Kalabeso pagi itu. Aroma tanah basah dan rerumputan basah masih menempel di udara, bercampur dengan aroma sungai yang mengalir pelan di kejauhan. Hamparan sawah hijau membentang hingga kaki bukit, sementara sinar mentari perlahan menembus kabut, menciptakan rona keemasan di padi yang bergoyang diterpa angin pagi.

Namun, keindahan itu tak sepenuhnya menutupi bekas luka yang tersisa dari banjir tahun 2024. Jalan-jalan desa masih tampak lembek di beberapa titik, rumah-rumah yang dulu terendam kini diperbaiki setengah jalan, dan beberapa warga masih mengingat bagaimana air deras menenggelamkan harta benda dan harapan mereka. Saya berjalan pelan, menatap wajah-wajah warga yang bersiap menghadapi hari, dan seketika menyadari bahwa perjalanan saya hari ini bukan sekadar menapaki desa, tapi menyingkap kisah perjuangan, kesabaran, dan harapan yang tersulam di tanah basah ini.

 

Langkah Pertama, Jalan Usaha Tani

Saya melangkah ke jalan usaha tani sepanjang 2.000 meter yang kini mulai menampakkan perubahan. Dulu, jalan ini adalah lautan lumpur yang membuat petani kesulitan membawa gerobak dan hasil panen. Kini, dengan lebar tiga meter dan permukaan yang rata, jalan itu tampak seperti pita harapan baru bagi desa.

“Alhamdulillah, sekarang panen nggak kesulitan lagi, Pak,” kata Pak Amin, seorang petani paruh baya, sambil mendorong gerobak penuh padi melewati jalan baru. Wajahnya yang legam dan keriput itu tersenyum lega, matanya memancarkan rasa syukur yang tulus.

Saya melihat tangan-tangan satgas TMMD dan warga yang bekerja bergandengan, mengangkut batu, menyapu sisa tanah, dan mengaduk semen. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak, setiap tetes keringat menjadi saksi kerja keras yang diam-diam membentuk masa depan desa. Aroma semen baru menyatu dalam udara pagi, menciptakan sensasi segar tapi juga berbau perjuangan.

Di sisi jalan, anak-anak berlari-lari, sesekali meloncat ke genangan air yang tersisa, tertawa riang. Suara mereka, ditambah kicauan burung dan aliran sungai, membuat suasana begitu hidup. Saya merasakan getaran kecil di dada, seakan desa ini tidak hanya dibangun dengan tangan, tetapi juga dengan hati dan jiwa.

 

Perbaikan jalan usaha tani.

Jembatan Kalabeso–Labuan Burung Simbol Persatuan

Tak jauh dari jalan usaha tani, sungai yang membelah desa menjadi saksi bisu dari usaha keras warga dan satgas. Di atasnya, Jembatan Kalabeso–Labuan Burung sedang dibangun. Suara palu yang menabrak besi, dentingan kayu, dan teriakan warga bergema, menciptakan ritme kerja yang hampir seperti musik alami.

“Hati-hati, Pak! Jangan sampai miring!” teriak seorang ibu dari tepi sungai, matanya menyoroti seorang anggota satgas yang menata balok kayu. Balok itu hampir tergelincir, namun seorang anggota satgas sigap menahannya. Mereka tersenyum, saling bercanda sebentar sebelum kembali bekerja.

Di atas cor yang baru dituangkan, Dansatgas Kodim 1607/Sumbawa, Letkol Kav Basofi Cahyowibowo, berdiri tegap, mengamati dan memberi arahan. “Bagus, tapi pastikan jarak besi tetap rapat, ya!” katanya sambil menepuk bahu warga. Suara beliau tegas namun hangat, seolah memberi semangat sekaligus rasa aman bagi semua yang bekerja.

Anak-anak berlarian di sekitarnya, sesekali mengejar burung yang beterbangan, tawa mereka berpadu dengan suara alat berat, menciptakan harmoni sederhana antara kerja keras dan keceriaan. Bau kayu segar, semen, dan tanah basah terasa kuat, menandai bahwa setiap inci jembatan adalah simbol persatuan dan harapan.

 

Kebersamaa dan gotong royong dalam pembangunan jembatan.

Rumah yang Menghidupkan Harapan

Di sudut desa, lima rumah sederhana tengah direnovasi. Debu beterbangan, palu berpadu dengan suara kayu yang digesek, sementara mata warga penuh haru menatap perubahan. Ibu Mahani duduk di teras rumahnya yang setengah jadi, matanya mengikuti setiap gerakan satgas.

“Alhamdulillah, akhirnya rumah ini bisa layak dihuni,” ujarnya, suaranya lembut namun penuh haru. Anak-anaknya berlari-larian, menambah semarak suasana, tertawa ketika seorang anggota satgas hampir tersandung kayu.

Saya menyaksikan satgas yang bekerja cekatan, mengangkat balok, menata dinding, berkomunikasi satu sama lain. Sesekali mereka bercanda ringan dengan warga, menciptakan kehangatan di tengah pekerjaan fisik yang melelahkan. Setiap bata yang ditata bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol rasa aman, kenyamanan, dan harapan baru bagi keluarga yang menunggu dengan sabar.

 

Nafas Kesehatan Baru

Tak jauh dari rumah warga, Puskesmas Pembantu tengah direnovasi. Atap bocor diganti, lantai retak diperbaiki, dinding kusam dicat ulang. Suara tukang mengepal palu terdengar bergema, bercampur tawa ringan ketika seorang anggota hampir tersandung alat bangunan.

“Sekarang pasien bisa menunggu dengan nyaman, Pak,” ujar seorang perawat, tersenyum sambil menatap lantai yang kini rata.

Setiap catatan, setiap pukulan palu, setiap sapuan kuas adalah bukti nyata bahwa kesehatan warga adalah prioritas. Aroma cat baru dan debu semen menyelimuti ruangan, namun rasa aman dan nyaman tercipta, membentuk fondasi kesehatan fisik dan mental bagi seluruh desa.

 

Pembaungan puskemas pembantu.

Pembangunan Drainase

Di sepanjang jalan desa, terlihat aktivitas pembangunan drainase sepanjang 290 meter. Tanah digali, batu dan semen disusun rapi, sementara air hujan sisa beberapa hari lalu perlahan mengalir ke saluran yang sedang diperbaiki. Saya mendengar suara warga yang memberi arahan ringan, “Sedikit ke kiri, biar airnya lancar,” disambut anggukan satgas yang sibuk menata batu dan mengaduk semen.

Suasana ini terasa hidup, penuh interaksi spontan dan tawa kecil ketika seorang anak hampir tersandung galian, namun segera ditolong oleh satgas. Seorang tokoh masyarakat menghampiri saya, menunjuk ke saluran yang hampir selesai, “Dulu tiap hujan deras, rumah kami selalu kebanjiran. Sekarang, mudah-mudahan masalah itu bisa selesai.” Satgas tersenyum dan membalas, “Kita pastikan semua saluran rapi, Pak. Semua demi warga.” Percakapan ini membuat saya merasakan betul bahwa setiap bentangan drainase bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi juga janji untuk melindungi desa dari banjir dan memperbaiki kualitas hidup warganya.

 

Pembangunan MCK

Di beberapa titik desa, tampak aktivitas perbaikan sanitasi. Warga dan satgas bekerja bersama, menata toilet umum, saluran pembuangan, dan sumur resapan agar lebih higienis.Suara obrolan dan tawa ringan terdengar di antara dentingan alat, sesekali seorang ibu berteriak, “Jangan terlalu dekat, nanti kotor!” yang dibalas tawa anggota satgas.

Suasana ini terasa akrab, penuh kebersamaan, seolah setiap orang tahu bahwa pekerjaan ini menyangkut kesehatan dan kenyamanan seluruh desa. Seorang pemuda desa menunjuk ke salah satu titik perbaikan sambil berkata kepada saya, “Sekarang anak-anak bisa bermain tanpa khawatir penyakit dari air kotor.” Satgas menjawab dengan senyum, sambil menegaskan pentingnya menjaga kebersihan: “Kita bantu bangun, tapi nanti harus dijaga bersama, ya!” Percakapan sederhana ini menunjukkan bahwa perbaikan fisik bukan sekadar proyek, melainkan proses edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang nyata.

 

Program penyuluhan TMMD 125 Kodim 1607/Sumbawa.

Membangun Pikiran dan Jiwa

Di balai desa yang sederhana, suara langkah kaki terdengar berderap ringan di lantai kayu yang mengeluh. Warga berkumpul, duduk bersila di tikar yang digelar di lantai, sementara anak-anak mengintip dari jendela, mata mereka berbinar penuh ingin tahu. Penyuluhan kesehatan dimulai, dan seorang anggota satgas memegang papan gambar yang penuh ilustrasi warna-warni.

“Ini pola hidup sehat, Bu,” katanya sambil menunjuk gambar sayuran, buah, dan cuci tangan. Seorang ibu mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu bertanya, “Kalau anak-anak suka main di sawah yang berlumpur, apa cukup hanya cuci tangan sebelum makan?”

“Tidak cukup, Bu. Selalu pastikan tangan bersih setiap kali sebelum makan dan setelah bermain di luar,” jawab anggota satgas sambil tersenyum. Anak-anak menatap gambar dengan mata berbinar, beberapa meniru gerakan cuci tangan yang diperagakan. Tawa ringan terdengar, bercampur dengan suara kicau burung yang masuk melalui jendela yang terbuka.

Di sudut lain, sosialisasi pertanian berlangsung. Seorang anggota satgas menjelaskan cara menjaga padi dari hama, memanfaatkan pupuk organik, dan merawat tanah agar subur. Seorang petani muda, Pak Dedi, mengangkat alisnya. “Kalau musim hujan panjang seperti tahun lalu, bagaimana supaya panen tidak gagal, Pak?”

“Ini tipsnya, Pak,” jawab satgas sambil mencontohkan, “gunakan drainase yang baik, jangan lupa rotasi tanaman, dan selalu pantau air di sawah. Ini semua bisa mencegah kebanjiran dan penyakit tanaman.”

Saya mencatat setiap detik interaksi itu. Warga tidak hanya menerima ilmu, tapi juga saling berbagi pengalaman, tertawa, dan menguji pengetahuan baru mereka. Suara papan tulis yang diketuk, tawa, dan sorak-sorai anak-anak menciptakan suasana hangat dan hidup. TMMD ke-125 bukan sekadar pembangunan fisik; ini adalah pembangunan pikiran dan jiwa warga, membentuk masyarakat yang mandiri dan sadar akan lingkungan.

 

Merah Putih dan Gotong Royong

Hari itu, desa seakan terselimuti semangat kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar di halaman balai desa, sementara anak-anak dan warga berkumpul, tertawa, dan bersorak menyambut lomba 17 Agustus. Gong kecil berdentang, memulai lomba tarik tambang, balap karung, dan panjat pinang mini.

Satgas TMMD ikut meramaikan. Mereka membantu memasang bendera, mengatur lomba, bahkan ikut berlomba, tertawa bersama warga. Letkol Basofi, Dansatgas, berjalan di antara kerumunan, menepuk bahu anak-anak, sesekali tersenyum melihat anak-anak jatuh bangun saat lomba.

“Semangat, Nak! Ayo tarik!” teriaknya, disambut sorak warga.

Di sisi lain, aroma gorengan dan kopi menyebar dari lapak-lapak warga, mencampur udara hangat pagi. Anak-anak berlari sambil membawa bendera kecil, sesekali menabrak kaki satgas, yang tertawa ringan menolong mereka. Suara alat bangunan dari lokasi jembatan yang masih berjalan berpadu dengan tawa dan teriakan, menciptakan simfoni khas desa yang hidup.

Hari itu terasa seperti hadiah kemerdekaan bagi desa. Jalan yang mulus, jembatan yang kokoh, rumah layak huni, Puskesmas yang rapi, drainase yang bersih, dan MCK yang sehat berdampingan dengan sorak-sorai warga. TMMD ke-125 bukan hanya proyek fisik, tapi perayaan nyata dari kerja keras, gotong royong, dan cinta pada desa.

 

Tim Wasev Mabes AD Asops Kasad Mayjen TNI Christian K. Tehuteru bersama Bupati Sumbawa, Ir. H. Sarafudin Jarot meninjau Lokasi TMMD Kodim Kodim 1607/Sumbawa.

Semangat yang Menggelora

Pagi berikutnya, desa Kalabeso tampak berbeda. Jalan utama penuh warna, bendera kecil merah putih berkibar di tiang-tiang bambu, dan warga berjejer di pinggir jalan menunggu tamu. Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan dinas yang mendekat, disertai derap langkah satgas yang membentuk barisan rapi.

Mayjen TNI Christian K. Tehuteru, Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat, bersama Bupati Sumbawa, Ir. H. Sarafudin Jarot, tiba. Suara teriakan hangat warga memenuhi udara: “Selamat datang Pak Bupati! Selamat datang Pak Jenderal!” Anak-anak melambaikan tangan, wajah mereka cerah, bercampur rasa kagum dan penasaran.

Saya menyaksikan bagaimana Mayjen Christian dan Bupati berjalan perlahan, menyalami warga satu per satu, tersenyum hangat, dan bertanya tentang kegiatan TMMD. “Bagaimana progres pembangunan, Pak?” tanya Mayjen, matanya menelusuri jalan baru, jembatan, dan rumah yang sedang direnovasi.

Seorang anggota satgas menjawab dengan sopan, “Alhamdulillah, progres lancar, Pak. Semua pekerjaan sesuai rencana.”

Bupati tersenyum, menepuk pundak seorang warga, “Terima kasih atas kerja kerasnya. Desa Kalabeso akan lebih maju dan nyaman berkat kalian semua.”

Kehadiran pejabat ini bukan sekadar seremoni. Mereka membawa motivasi nyata, memperlihatkan bahwa perjuangan satgas dan warga dihargai, dan memberi dorongan semangat agar setiap tetes keringat tidak sia-sia. Angin sungai membawa aroma tanah basah dan kayu segar dari jembatan, menambah kesan hidup pada momen bersejarah itu.

 

Warga Desa Kalabeso Bersama satgas TMMD 125 bergotong royong meyelesaikan pekerjaan fisik di Desa Kalabeso.

Di Balik Keringat dan Kebersamaan

Di balik setiap bangunan yang kini berdiri kokoh, tersimpan kisah perjuangan para prajurit Satgas TMMD. Hari-hari panjang mereka lalui dengan bekerja sejak fajar hingga senja, seringkali di bawah terik matahari atau hujan yang mengguyur tiba-tiba.

Medan yang tidak selalu bersahabat menuntut ketangguhan fisik dan mental. Tanah yang becek membuat kendaraan susah melintas, material harus dipikul bersama. Namun wajah-wajah itu tetap menampilkan senyum, karena mereka tahu apa yang mereka kerjakan akan menjadi warisan bagi warga desa.

“Capek itu biasa. Yang luar biasa adalah melihat warga tersenyum,” ungkap salah satu anggota satgas singkat.

Momen kebersamaan pun terjalin erat. Warga menyiapkan air minum, ibu-ibu desa memasak untuk para prajurit, dan anak-anak dengan polos ikut membantu mengangkut batu kecil. Semua itu menciptakan rasa kekeluargaan yang tidak bisa digantikan dengan apapun.

Perjuangan itu menjadikan hasil TMMD bukan sekadar bangunan, tetapi juga cerita tentang semangat pantang menyerah dan kemanunggalan TNI dengan rakyat.

 

Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief dalam acara penutupan TMMD 125 Kodim Kodim 1607/Sumbawa.

Simbol Harapan dan Kebersamaan

Suasana TMMD mulai tenang. Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief hadir untuk menutup rangkaian kegiatan. Ia berdiri di hadapan warga dan satgas, suara tegas namun hangatnya terdengar jelas.

“Kerja keras kalian semua, baik satgas maupun warga, telah membuahkan hasil nyata. Desa Kalabeso kini lebih sehat, nyaman, dan sejahtera,” ujarnya.

Tepuk tangan panjang terdengar, sorak anak-anak, senyum warga, dan rasa syukur memenuhi udara. Brigjen Sjasul menyalami warga, menanyakan kondisi rumah dan fasilitas yang dibangun. Keberadaannya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya dari jauh, tetapi hadir di tengah perjuangan nyata.

Di sore itu, jalan, jembatan, rumah, Puskesmas, drainase, dan sanitasi bukan hanya simbol pembangunan fisik. Mereka menjadi simbol perjuangan, gotong royong, dan harapan. Desa Kalabeso menatap masa depan dengan keyakinan baru, merayakan kemerdekaan dengan makna yang lebih dalam kemerdekaan untuk hidup yang lebih layak, sehat, dan bermartabat.