Ketika Alam Mulai Enggan Bersahabat: Pelajaran Masa Depan dari Banjir dan Galodo yang Menghantam Aceh, Sumut, dan Sumbar

OPINI & ARTIKEL2033 Dilihat

Ketika Alam Mulai Enggan Bersahabat: Pelajaran Masa Depan dari Banjir dan Galodo yang Menghantam Aceh, Sumut, dan Sumbar.Hilangnya daya serap tanah dan penahan air membuat air hujan tidak lagi meresap. Ia berlari deras, menyeret batuan dan kayu, menciptakan galodo mematikan yang muncul hanya beberapa menit setelah hujan ekstrem mengguyur.

 

Oleh : Riswan Idris
Banjir bandang dan galodo yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 menjadi salah satu bencana paling kompleks yang pernah tercatat di wilayah Sumatera. Ribuan rumah rusak, ratusan korban jiwa terdata, serta permukiman dan jalur logistik lumpuh. Namun tragedi ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah akumulasi dari puluhan tahun pembiaran atas kerusakan lingkungan yang dilakukan secara ugal-ugalan, alih fungsi lahan tanpa kendali, dan tata ruang yang mengabaikan karakteristik alam Sumatera yang memiliki patahan aktif, lereng curam, dan curah hujan ekstrem.

Bencana 2025 adalah cermin masa depan—apabila Indonesia tidak memperbaiki hubungan dengan alamnya sendiri.

Dalam dua dekade terakhir, tekanan terhadap hutan-hutan Sumatera meningkat drastis. Di Aceh—terutama Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara—data lembaga lingkungan menunjukkan penyusutan tutupan hutan mencapai lebih dari 120 ribu hektar hanya dalam sepuluh tahun terakhir. Sebagian besar berubah menjadi kebun monokultur, pembukaan tambang rakyat, serta permukiman baru.

Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak berbeda. Di DAS Asahan, Batang Gadis, serta Batang Anai hingga Batang Kuranji, pola yang sama terjadi: hutan ditebang, lahan dialihfungsikan, dan buffer zone sungai diubah menjadi kawasan budidaya, bahkan perumahan.

Hilangnya daya serap tanah dan penahan air membuat air hujan tidak lagi meresap. Ia berlari deras, menyeret batuan dan kayu, menciptakan galodo mematikan yang muncul hanya beberapa menit setelah hujan ekstrem mengguyur.

Ketika akar-akar pepohonan hilang, tanah tidak lagi punya genggaman. Dan ketika tanah tak punya genggaman, manusia pun kehilangan pijakan.

Tragedi banjir 2025 juga merupakan bagian dari fenomena global. BMKG mencatat peningkatan intensitas hujan ekstrem di wilayah Sumatera sebesar 20–30 persen dalam sepuluh tahun terakhir, diperparah oleh pemanasan Samudra Hindia yang menguatkan potensi awan konvektif.

Ini bukan “hujan biasa”. Ini adalah hujan yang membawa energi ratusan juta joule, meletup dari atmosfer yang memanas karena ulah manusia sendiri.

Lahan yang sehat seharusnya mampu menahan air sebesar itu. Namun ketika hutan hilang, kondisi hidrologi rusak, dan sungai dangkal akibat sedimentasi, hujan ekstrem akan selalu berubah menjadi bencana ekstrem.

Tata Ruang Mundur: Kota dan Desa yang Tidak Lagi Mengenal Batas Alam

Kearifan lokal Minangkabau, Gayo, Karo, dan masyarakat pesisir Aceh memiliki aturan turun-temurun tentang lokasi membangun rumah, jarak dengan sungai, hingga larangan menebang hutan tertentu. Semua itu kini terkikis oleh pembangunan cepat yang sering kali minim kajian.

Banyak permukiman baru berdiri tepat di jalur aliran galodo purba—jalur yang secara geologi pasti akan dilalui lagi.
Jalan desa dibangun dengan memotong tebing tanpa penguatan.
Perumahan dibangun di dataran banjir tanpa retensi.

Ketika manusia meremehkan geografi, geografi akan mengingatkannya dengan cara yang paling keras.

Transformasi ekonomi Sumatera memang tidak bisa dihindari: dari hutan menjadi kebun, dari desa menjadi kawasan tambang, dari sawah menjadi perumahan. Tetapi yang menjadi persoalan adalah kecepatan perubahan yang tidak dibarengi kapasitas lingkungan untuk pulih.

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali menciptakan tiga kerentanan sekaligus:

1. Banjir – karena air tidak lagi diserap tanah.

2. Longsor – karena lereng kehilangan penahan alami.

3. Krisis air – karena mata air menghilang dalam jangka panjang.

Bencana 2025 hanyalah puncak gunung es. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tanpa reforestasi masif dan penataan ruang ketat, Sumatera akan menghadapi krisis air bersih, banjir-tanah longsor berulang, bahkan migrasi penduduk besar-besaran dari daerah rawan.

Jika degradasi terus berlanjut, skenario masa depan yang mungkin terjadi: Frekuensi banjir bandang meningkat hingga 3 kali lipat dalam 20 tahun. Galodo menjadi bencana musiman di kaki Gunung Marapi, Singgalang, Talang, hingga Leuser. Kota-kota pesisir seperti Padang, Meulaboh, dan Sibolga terancam kombinasi banjir darat dan rob. Ribuan hektar sawah menjadi tidak produktif karena sedimentasi. Biaya ekonomi bencana meningkat drastis dan memiskinkan generasi berikutnya.

Ketika alam berhenti bersahabat, ia tidak menghukum. Ia hanya kembali pada hukum dasarnya. Sungai harus mengalir, hutan harus tumbuh, dan air harus bergerak mengikuti gravitasi. Manusialah yang sering mengubah jalannya.

Apa yang Masih Bisa Diselamatkan?

Walau kerusakan besar telah terjadi, masa depan tidaklah gelap jika langkah-langkah tegas diambil segera:

1. Reforestasi berbasis DAS, bukan berbasis proyek

Penghijauan harus mengikuti aliran sungai, dengan spesies lokal penahan erosi.

2. Penegakan hukum lingkungan tanpa kompromi

Penebangan ilegal dan alih fungsi kawasan lindung harus dihentikan, tidak cukup hanya dengan razia simbolik.

3. Tata ruang berbasis ilmu geologi dan sejarah bencana

Pemukiman tidak boleh dibangun kembali di jalur galodo. Relokasi harus dilakukan dengan hormat dan manusiawi.

4. Teknologi mitigasi: early warning system hingga digital twin kawasan rawan

Teknologi bukan pelengkap, tetapi kebutuhan.

5. Pendidikan lingkungan di sekolah hingga nagari/desa

Kearifan lokal dipadukan dengan sains modern.

Mengembalikan Harmoni sebelum Terlambat

Banjir dan galodo 2025 harus menjadi tonggak kesadaran baru. Kita tidak sedang berhadapan dengan kemarahan alam—alam tidak marah. Alam hanya bereaksi sesuai kaidahnya. Andai manusia terus mengeksploitasi hutan, menambang tanpa kendali, mempersempit sungai, dan menutup tanah dengan beton, maka bencana berikutnya bukan pertanyaan jika, melainkan kapan.

Saatnya memilih:
menunggu bencana berikutnya, atau memperbaiki hubungan dengan alam sebelum ia benar-benar enggan bersahabat. (***)

Penulis adalah seorang Jurnalis,Pemerhati Sosial & Kebijakan Publik