Aceh Timur – Gajak sangat sering turun ke perkebunan warga di Desa semanah jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Karnanya warga diduga merugi hingga miliaran rupiah dalam kurun waktu 10 Tahun terakhir.
“Gajah yang jumlahnya puluhan ekor memasuki kebun warga secara rutin dalam setiap pekannya, sehingga tanaman warga seperti sawit karet. Pinang, kelapa dan tanaman cabai padi, jagung dan tanaman palawija kerap dirusak di daerah itu” terang Ardiansah warga setempat, Minggu (11/6/2017).
Lebih lanjut ia memaparkan bahwa akibat gangguan gajah, warga yang memilki kebun enggan bercocok tanam, sehingga banyak lahan yang dulunya produktif, saat ini menjadi lahan pasif.
Selain itu menurutnya banyak pihak LSM seperti Fron Konservasi Louser (FKL), maupun BKSDA berperan menanggulangi gangguan gajah tapi hingga 10 Tahun ini, belum memberikan hasil yang maksimal.
“Pembangunan bariel yang di ditangani FKL juga belum rampung, setiap saya tanya pada FKL Dan BKSDA Aceh terkait penanganan gajah berbagai alasan yang mereka sampaikan, kami masyarakat hanya meminta gajah tidak lagi masuk ke ladang kami, agar kami bisa bercocok tanam. dan kami tidak tahu alasan apapun, yang jelas kami sangat kecewa pada pihak BKSDA dan FKL karena tidak mampu menangani ganguan gajah hingga saat ini,” jelas Ardiansah.

Tambahnya lagi, “Jangan salahkan masyarakat jika mereka berupaya membunuh gajah, kerana mereka hanya bisa lakukan itu dan jika gajah mati banyak pihak yang mencari pembunuh gajah, untuk di tangkap, tapi jika gajah merusak tanaman kami apa BKSDA dan FKL pernah membayar konpensasi atas kerugian kami,” kata Ardi.
Tutupnya, Masyarakat Seumanah jaya butuh jaminan dari pihak terkait, atas kerugian yang diakibatkan oleh hewan liar yang sudah sangat merajalela merusak perkebunan warga tersebut.





