Orang Kota-Orang Desa dan Kefasikan, Sebuah Makna

FIGUR1171 Dilihat

KabarDaerah.com 

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* *Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

“Hanya orang desa,” “gadis dusun,” “dari desa pedalaman” adalah beberapa penggalan lirik dari syair-syair yang populer lagi di masyarakat berbagai kalangan. Sebagai tudingan seringnya bernada negatif, yang menerima atau dalam posisi tertuding tidak jarang telah lebih dahulu menerima berbagai pandangan tersebut secara rela, atau dalam bawah sadar menerima pandangan tersebut secara begitu saja meski sampai bersifat negatif sekali pun.

Sebenarnya, pandangan generalisir secara karakter geografis seperti kota terhadap desa pada kondisi tertentu dapat diterima secara begitu saja, namun pada kondisi lain kritik atau masih pada tataran pandangan (negatif) sesungguhnya lebih diutaman terhadap pembagian karakter tersebut.

Namun jika bicara tentang kepentingan tentu akan menjadi berbeda sama sekali. Sebagai batasan, diskursus termaksud adalah terhadap kritik dalam rangka berpesan untuk meningkatkan kualitas diri dalam kebaikan (taqwa), wa bil khusus dalam hal pembedaan masyarakat atau orang kota dengan desa.

Baik, al-Qur’an yang kebenarannya dan berbagai kebaikan yang tidak diragukan lagi ada bersamanya, sebagai bagian dari Rahmat Allah banyak menyampaikan hal tersebut. Berlatar belakang Arab, sebagaimana bahasa aslinya, pada satu kesempatan al-Qur’an menyinggung tentang karakter orang Badui yang kuat dengan kefasikannya, namun pada saat yang sama ternyata masyarakat kota (disebut dengan kata “al-Madinah”) sebagai terlalu dalam kefasikan. Bukankah hal ini cukup adil?! Sangat adil dan patut untuk direnungkan.

Sementara hikmah ya g dapat dipetik sebenarnya, keislaman penting untuk dikedepankan di tengah perkembangan kehidupan masyarakat desa juga tantangan akan kemajuan ala perkotaan. Namun yang perlu diindahkan dari pesan Allah dalam al-Aur’an adalah perihal kefasikan. Maka, benarlah kiranya penggalan syair suatu nasyid dengan senandung sederhana bahwa “orang kota, orang desa Kuta semua sama!”

Tidak perlu .under atau menuding secara berlebihan kepada dengan maksud negatif atau lebih buruk akan perbedaan tersebut tanpa mengindahkan hal utama untuk diperbaiki yaitu ketaqwaan kepada Allah. Maka fokus kritik sesungguhnya adalah pada kefasiqan atau kezindiqan seseorang atau suatu masyarakat yang menyerang baik ia orang kota bahkan orang dosa sekali pun penting untuk mewaspadai.

Sebagai gambaran, penulis mengutip beberapa ayat al-Qur’an bagian akhir Surat al-Hujuroot sebagai argumen tidak terbantahkan serta untuk ditadabburi dan tafakkuri, berikut terjemah Indonesianya: (14) Orang-orang Arab Badui berkata,  “kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “kami telah tunduk (Islam); karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(15) Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

(16) Katakanlah (kepada mereka), “apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(17) Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.

(18) Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “Shadaqallah!”