Kenyataan Dapat Membentuk Karakter Seseorang

FIGUR1039 Dilihat

KabarDaerah.com

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.*

Jargon populer lagi familiar bisa berubah dan diidap sedemikian rupa orang yang secara prinsip berseberangan namun ternyata menjadi penentangnya. Pentingnya pengetahuan atau ilmu akan setiap tindakan, terutama yang berkaitan orang lain meski sekedar sindiran.

Tentang roh, khususnya kondisi roh orang kafir yang Allah sendiri menyeru agar dia mati atau menghakhiri hidupnya di dunia ini dalam kekafiran agar rohnya melayang-layang. Hal ini bisa jadi bagian sebagai satu kesatuan dengan firman Allah yang Ia tidak menginginkan kesucian (jiwa) mereka. Perhatikan firman Allah dalam al-Qur’an Surat at-Tabah ayat 125, berikut artinya:

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit (penyakit batin, seperti kekafiran, kemunafikan, dan keragu-raguan) maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.”

Sebenarnya, membentuk karakter atau “building caracter” termaksud bukan dalam arti kuas namun pengaruh sebagai suatu perbuatan. Sesuatu yang dilakukan berakibat terhadap di luar dirinya. Akibat tersebut bahkan meluas menjelma kenyataan di luar sekaligus dirinya sendiri.

Dinamika realita atau kenyataan sebagaimana tergambar pada paragraf awal artikel ini tidak menafikan tanggungjawab atas suatu perbuatan dan akibatnya. Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi sallam bersabda: “”Allah SWT akan mempertanyakan manusia pada hari kiamat nanti, hingga menanyakan tentang: apa yang menghalangimu ketika melihat kemungkaran sehingga engkau tidak mencegah kemungkaran itu? Ketika Allah SWT mengajarkan kepada sang hamba untuk menjawabnya, sang hamba akan segera menjawab, “Wahai Rabbku, aku hanya mengharapkan-Mu, dan aku telah meninggalkan manusia” (HR Imam Ahmad).

Kenyataan mungkin tidak sepenuhnya menuju kepada yang sesungguhnya. Ada banyak kemungkinan absah semisal semakin ketatnya hitungan Allah pada suatu kaum dengan tujuan tertentu semisal ujian misalnya. Namun sesungguhnya di sisi Allah lah segala kebaikan.

Mengingat kembali filosofi proses, suatu tumbuhan atau hewan misalnya dari kecil menuju wujudnya masing-masing, memberi pengaruh satu sama lain baik manfaat atau sebaliknya. Maka manusia sebaiknya berusaha sebisa daya membawa manfaat bahkan sampai pada tataran nyata sekalipun (seperti perbuatan baik yang ditampakkan).

Menjadi sosok yang berbuat baik dan membawa akibat berupa kebaikan menjadi pilihan dengan mengharap kebaikan dari sisi Allah di antaranya dengan membawa atau mendatangkan manfaat (kebaikan) dan menjauhkan keburukan pada diri, lingkungan dan orang lain secara umum, “Allahu a’lam!”

(Penulis Penulis Lintas Jogja Sumatera)